Seni Batu Akik


Setiap orang tentu memiliki hobi dan kegemaran masing-masing pada benda-benda tertentu. Seperti hobi mengoleksi lukisan, mainan, benda antik, sampai batu akik. Di kota Bandung ada seorang seniman teater juga dikenal sebagai penyair yang bermula dari hobi mengoleksi batu akik hingga menjadi sebuah oesaha. Nama Deddy Koral sudah tidak asing lagi bagi kalangan yang memiliki kegemaran mengoleksi batu akik.


Nama belakang “Koral” tersebut didapatkan oleh lelaki bernama asli Dedi Mulyadi Santika ini dari ketua Teater di Studio Jeihan. Adalah Alm. Maman Nur yang memberikan nama tersebut pada tahun 1984 ketika mereka akan mementaskan “Kolase Maharaja John”. Nama itu diberikan lantaran Deddy senang mengasah batu yang ia dapatkan dari sumur dangkal di lingkungan studio milik pelukis Jeihan di sekitaran Jalan Padasuka, Bandung.

Ia sendiri memulai oesaha di bidang batu akik ini sejak 8 tahun lalu. “Awalnya iseng-iseng menawarkan koleksi saya kepada teman-teman seniman. Setelah saya menikah, ternyata lumayan juga jualan batu akik buat nambah penghidupan.” kenang Deddy. Dari iseng-iseng tersebut, ternyata dari mulut ke mulut oesaha sampingan di luar kegiatannya berkesenian menyebar ke banyak orang bahkan sampai pejabat. Jadilah oesaha batu akiknya bisa menopang kehidupannya pula.


Seperti dituturkan olehnya, “Kelebihan batu akik yang saya jual adalah memunculkan nilai estetika dari batu akik. Karena pada batu-batu akik itu biasa terdapat lukisan-lukisan yang muncul secara alami. Lukisan pada batu itu bisa menyerupai pohon, bonsai, huruf, atau bahkan seperti huruf arab.” Keunikan batu akik yang dijualnya memang menonjolkan sisi seni dari batu akik tersebut.

Harga jual batu akik itu sendiri sangat relatif. Mulai dari Rp 5K terus bisa mencapai Rp 50K. Harga tersebut sangat ditentukan oleh keindahan yang dikandung oleh batu akik itu sendiri. Selain itu, bagi seorang kolektor jika sudah katuh hati pada sebuah batu akik ia akan menghamburkan duitnya untuk memiliki sebuah batu akik.


Batu agate atau batu Jawa adalah sebutan lain bagi batu akik. Biasanya jenis batu ini bisa dipakai sebagai cincin atau hiasan liontin. Deddy Koral sendiri mengolah batu akik dari bongkahan batu-batu yang ia dapatkan kebanyakan dari perajin di Bungbulang, Garut. Ada juga yang dari Banten, Kalimantan, Pacitan, dan Sukabumi.

Kendala oesaha batu akik ini adalah pada peminat yang terbatas, hanya kalangan kolektor dan para peminat batu akik saja. Sehingga penjualan batu akik tidak selalu konstan setiap bulan. Ada kalanya pembeli sepi, di lain waktu tidak diduga-diduga datang seorang kolektor dengan membawa uang jutaan rupiah.

Namun, Deddy Koral memiliki prinsip “Apa yang dicintai pasti memberi”. Seperti halnya ia berteater dan menulis puisi, ia menjalankan oesaha batu akik ini didasari cinta. Oesahanya ini merupakan hasil dari mengawinkan seni dan ekonomi. Maka, kendala oesaha baginya hanyalah sebuah hambatan kecil. “Selama melakukan segala sesuatu dengan penuh cinta pasti ada hasilnya”, ia menambahkan sekaligus menutup wawancara di kios kecilnya di halaman parkir Kebun Binatang Bandung yang diberi nama Estetika.

Sebarkan link halaman ini : http://bit.ly/PbZJ8E
0 comments

Creative Commons License

myOyeah by www.myoyeah.com is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 Unported License.

Scroll to Top