Mencoba Lepas dari Belitan Utang

Berbuat nekat memang terkadang perlu, karena kamu bisa belajar banyak dari sebuah kenekatan. Hal itulah yang sudah dialami oleh Febrianti, pemilik ALMEERA YOGURT. Di usianya yang baru 19 tahun, cewek yang biasa dipanggil Pepew ini nekat berutang sebesar Rp24 juta untuk mendirikan Oesaha. Nekatnya bukan hanya karena berani berutang sebesar itu, tapi juga “target” kreditornya yang gak tanggung-tanggung, mulai dari teman kuliah, dosen, bahkan… kepada ketua jurusan di kampusnya.

“Saya juga bingung waktu itu tidak malu sama sekali untuk utang. Padahal kalau sekarang bayangin, kayaknya malu banget kalau harus melakukan lagi,” kenang Pepew. Satu lagi mengapa Oesaha ini terbilang nekat adalah dia tidak punya pengalaman sama sekali dalam berbisnis. Ia hanya merasa tertantang setelah mengikuti training kewirausahaan dengan pembicara Rendy Saputra. “Saya ingat sekali waktu itu kang Rendy bilang kalau ingin belajar renang tidak bisa dengan baca buku atau baca sumber dari internet. Harus nyemplung ke kolam,” lanjut Pepew.

Kata-kata Rendy tersebut langsung memantik jiwa muda Pepew untuk memulai Oesaha. Dari modal Rp24 juta tersebut, ia membuka toko yogurt—minuman kesukaannya—di Jalan Trunojoyo, Bandung. Kenekatannya tersebut ternyata dianggap brilian oleh civitas akademik di Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pendidikan Bandung (UPI) dan dia dinobatkan sebagai ikon Young Womanpreneur di kampusnya. Hal tersebut membuatnya bangga dan semakin bersemangat untuk menjalankan Oesaha. Sayang kebanggan tersebut hanya seumur jagung, tidak lebih dari dua bulan.

Setelah dua bulan menjalankan Oesaha, hasilnya tak semanis gelar Womanpreneur yang disandangnya. Tak ada keuntungan berlimpah yang masuk ke kantongnya. Yang datang justru tagihan-tagihan dari para kreditor yang meminta hak mereka untuk dikembalikan. Sementara uang modal tingga Rp1 juta. Lunglai rasanya seluruh badan dan tulang seperti dilolosi. Dengan berat ia menutup tokonya yang hanya bertahan selama dua bulan.

“Rasanya malu sekali waktu itu. Untuk menutup Oesaha tersebut saya benar-benar hampir tak punya muka. Bagaimana saya yang dijadikan ikon entrepreneur muda menjalankan Oesaha dua bulan saja sudah tutup. Apalagi untuk ke kampus bertemu dengan teman-teman, berat sekali rasanya,” kenang Pepew.

Ia pun kemudian menemui Rendy Saputra untuk protes. Rendy pun mencoba memompa semangat Pepew untuk tetap tegar dan mencoba lagi. Tapi hampir tak ada kata yang masuk di ingatan Pepew karena saking frustasinya waktu itu. Yang ada di otaknya hanyalah sang motivator telah menjerumuskan dirinya ke jurang utang yang cukup besar, bagi seorang cewek seumurnya. “Saya seperti disuruh terjun payung, tapi tidak dibekali parasut. Setelah saya jatuh dan tak ada yang menolong,” katanya.

Lama Pepew merenungi nasibnya. Ia merasa orang terbodoh di dunia, karena tanpa pengalaman bisnis secuil pun berani nekat meminjam uang sebesar itu. Tagihan dari para kreditor tetap deras mengalir kepadanya. Untuk ke kampus rasanya terasa semakin berat, karena beban mental dan beban utang. Tapi renungannya berujung pada satu kesimpulan: utang adalah kewajiban dan itu harus dibayar.

Bermodal sisa uang Rp1 juta, ia pun memulai Oesahanya dengan cara yang menurutnya tak kalah memalukan. Ia membuka gerai yogurt lagi dengan sebuah meja kecil di pinggir jalan di dekat rumahnya. Kali ini tanpa ada karyawan yang membantu seperti ketika membuka toko di Jalan Trunojoyo. Ia membuka “toko” pinggir jalannya pada Agustus 2010 di bulan Ramadhan, 2 bulan setelah tokonya tutup.

Niat baiknya untuk melunasi kewajibannya ternyata berbuah manis. Di akhir bulan ketika menghitung omset warung pinggir jalannya, ternyata hasilnya cukup mengagetkan. Ia mendapatkan omset Rp10 juta hanya dengan bermodal meja 1×1 meter dan berjualan di pinggir jalan. Hasil ini membuat Pepew bersemangat lagi. Rasa malu yang sempat menghiasi wajahnya langsung ia tanggalkan dan melanjutkan Oesaha ini dengan percaya diri.

Dari omset Rp10 juta tersebut ia mulai mencicil utangnya. Dan “toko” pinggir jalannya tersebut ternyata cukup ampuh. Dalam waktu tiga bulan omsetnya terus menanjak dan dia sudah bisa membuka gerai lagi di kampusnya. Warung pinggir jalan Pepew sedikit demi sedikit mulai mengangkat dagunya. Ia tak harus tertunduk lesu dan malu ketika ke kampus. Rasa bangga mulai membuncah di hatinya dan kedai yang ia buka di kampusnya berjalan dengan baik. Yang paling membuat bangga tentu saja sedikit demi sedikit ia berhasil melunasi utangnya dan semua bisa diberesi setelah enam bulan.

Toko meja pinggir jalan menjadi titik balik bagi Pepew. Sekarang dia sudah memiliki kedai di Jalan Cihaurgeulis No .4 Bandung. Selain itu ada dua gerai lagi di Bandung dan masing-masing satu di Jakarta dan Cirebon. Setelah merasakan pahitnya terjerembab dalam kegagalan dan manisnya keberhasilan, Pepew sekarang ini punya mimpi untuk membuka pusat jajalan yogurt dengan konsep bar.

Jatuh bangunnya Pepew telah membuktikan bahwa ia memang tepat memilih nama brand Almeera yang artinya cewek yang tangguh. Ketangguhan Pepew sekarang ini telah berbuah manis. “Saya sadar sekarang bahwa yang bisa membuat saya bangkit itu bukan orang lain, tapi diri kita sendiri,” tutup Pepew.

Lihat posting Almeera Yogurt lainnya klik disini

Sebarkan link halaman ini : http://bit.ly/LQ0g0r
2 comments
Widodo Se
Widodo Se

good and your spirit is the best.

Trackbacks

  1. [...] Dengan izin-Nya, Allah berikan saya kekuatan untuk maju lagi di bidang bisnis. Bedanya, ini hanya bermodalkan uang sisa kerugian bisnis pertama yang tidak seberapa, bukan puluhan juta seperti bisnis pertama. Saya membuka bisnis kedua saya Almeera Yogurt di pinggir Jl.Pusdai, kaki lima, pakai meja 1 x 1 meter, saya yang jagain. Sederhana sekali. Tapi singkat cerita semua berubah secara perlahan. Ternyata disitulah titik balik perjuangan saya. Allah izinkan saya jatuh terlebih dahulu agar saya mampu menghargai arti dari kerja keras, memaknai perjuangan dengan lebih dalam. Lengkapnya tentang kisah bangkit saya di bidang bisnis silakan klik artikel saya yang diliput oleh http://www.myoyeah.com –> “Mencoba Lepas dari Belitan Hutang” [...]

Creative Commons License

myOyeah by www.myoyeah.com is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 Unported License.

Scroll to Top