Arien Hendriani atau biasa disapa Mbak Arien GMR adalah sosok yang familiar di kalangan pegiat musik Bandung, khususnya scene indie maupun underground. Mba Arien & GMR radio sempat dinobatkan masuk dalam list 200 ikon paling berpengaruh di Kota Bandung versi Pikiran Rakyat 2011 lalu. Kedekatannya dengan scene musik ekstrim dimulai ketika ia menjadi penyiar di radio GMR (Generasi Muda Radio) pada 1991 dalam program-program musik cadas.
Pada masa itu GMR menjadi satu-satunya radio di Bandung yang memutar lagu-lagu demo band underground lokal. Dari profesi penyiar ini kedekatan Arien semakin terjalin dengan para musisi dan audience musik underground sejak menambah aktifitasnya dengan menjadi MC di berbagai event-event musik underground yang pada masa itu rutin digelar di GOR Saparua Bandung yang sangat bersejarah.
Ketika radio GMR tutup, ia sempat hijrah ke radio Jakarta,tapi Bandung adalah kota kecintaannya. Mba Arien kemudian kembali ke kota Bandung untuk memulai bisnisnya di bidang kuliner selain tetap eksis sebagai MC di event-event musik hingga saat ini. Pada 2006 memulai bisnis café di daerah Metro Bandung, lalu beralih menjadi restoran Jepang pada tahun 2008. Dua tahun berikutnya ia membuka Braga Café & Craft di daerah Braga Bandung.
Kafe terakhir menjadi tempat Arien untuk menumpahkan ide-idenya di scene musik. Braga Café dikenal bukan hanya tempat wisata kuliner namun juga tempat bertemunya musisi-musisi dari berbagai komunitas musik. Berikut adalah petikan wawancara tim Subterrestrial dengan Arien yang berlokasi di Braga Café & Craft.
Bagaimana cara mba Arien membagi waktu antara kesibukan di scene musik dengan bisnis yang dijalankan?
Kalau boleh jujur musik adalah prioritas utama, karena itu kecintaan saya. Sebagai contoh kalau suatu hari ada tugas untuk MC sebuah event, maka akan saya prioritaskan, tapi bukan berarti bisnis tidak dipentingkan. Bisnis saya sudah memiliki sistem manajerial yang baik sehingga ketika ada jadwal di kegiatan musik, bisa saya tinggalkan untuk sementara waktu.
Bisa dijelaskan konsep Café & Craft itu seperti apa?
Awalnya Braga Café & Craft ini semula tidak akan berbentuk café. Saya melakukan kerjasama dengan ASEPHI (Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia) Jawa Barat untuk membantu memasarkan produk-produk kerajinan mereka di daerah Braga ini. Kemudian muncul rencana untuk membuat display atau workshop di Braga ini. Untuk menarik minat pengunjung lokal maupun turis agar mau melihat-lihat berbagai handicraft yang dipajang disini,maka saya putuskan untuk mengkombinasikannya dengan konsep kuliner, agar pengunjung dapat melihat-lihat berbagai handicraft yang ditawarkan disini sambil santai dan menikmati makanan dan minuman.
Jenis-jenis handicraft apa aja yang ditawarkan disini?
Bermacam-macam,mulai dari kain batik, wayang kulit dan golek, lampu-lampu etnik, furniture hingga produk-produk dari olahan kulit.
Konsep menu kuliner di Braga Café seperti apa dan apa menu khas disini?
Secara konsep kita ambil Indonesia-Eropa. Kita menawarkan kualitas rasa terbaik. Kita juga tampilkan menu-menu unik seperti camilan atau jajanan pasar yang dikemas dengan konsep café seperti bala-bala ala braga dan juga tahu goreng braga. Rasanya sangat beda dan unik. Kita juga menghadirkan kopi dari seluruh daerah di Indonesia yang disebut kopi se-nusantara. Semua jenis kopi lokal Indonesia ada disini, jadi kopi adalah salah satu unggulan di Braga Café.
Secara keseluruhan apa yang membedakan Braga Café dengan café-café lain di Bandung?
Braga café &craft adalah sebuah kafe yang terletak di kawasan heritage kota Bandung dan membawa unsur khas kota Bandung, yaitu handicraft dan musik. Sejak awal 2011 seminggu sekali, Braga Café menggelar Malam Mingguan ala Braga, dimana pengunjung dapat menikmati makanan dan minuman sekaligus menikmati suguhan musik dari kami. Musik yang kita hadirkan bukan dari kategori mainstream yang sudah banyak di televisi, tapi lebih dari komunitas-komunitas yang unik seperti komunitas musik retro 60’s, 70’s hingga komunitas musik klasik, classic rock, glam rock,blues, electronic/techno, grunge dan lain-lain. Selain itu,tidak hanya sebatas live musik tapi lebih ke diskusi mengenai musik dan juga sejarah dan teknologinya secara mendalam antara artis dengan pengunjung,sehingga mudah-mudahan mendapat tambahan "musical knowledge" dengan menghadiri malam mingguan ala Braga.
Bagaimana tanggapan Mbak mengenai entrepreneurship dengan seorang musisi atau aktivis musik?
Munurut saya, seorang musisi yang memutuskan menjadi seorang entrepreneur adalah sebuah pilihan yang realistis. Musik adalah sebuah bidang yang menyita cukup banyak waktu dan konsentrasi. Sering kali prestasi di musik berbanding terbalik dengan prestasi di dalam bekerja. Di sisi lain, beberapa musisi juga ada masa expired-nya, dimana musik tidak bisa selamanya dijadikan sumber penghasilan hingga umur mereka tua nanti. persaingan dalam industri musik membuat seorang musisi tidak selalu bisa untuk eksis seumur hidupnya, maka menjadi seorang musisi sekaligus menjadi enterpreneur adalah sebuah pilihan yang sangat realistis.
Menurut mba Arien sendiri bagaimana perkembangan bidang entrepreneurship di komunitas musik indie atau underground di Bandung?
Sangat baik. Komunitas musik indie di Bandung dan juga kota-kota lain sudah mampu menciptakan sebuah kreatif ekonomi, dimana musik dan entrepreneurship menjadi dua elemen yang saling mendukung satu sama lain. Musik membuka celah bagi para entrepreneur untuk mengembangkan banyak bisnis dan menciptakan industri yang sehat, sebaliknya industri yang sehat ini juga turut berperan menyokong kelangsungan scene musik untuk terus menjalankan akitifitasnya. Enterpreneurship di kalangan scene musik indie/underground ini bahkan sudah mampu menciptakan lapangan kerja bagi banyak orang termasuk dari kalangan diluar komunitas musik.
Banyak pengusaha dari kalangan musik yang tetap memasukan identitas musik dalam produk-produk yang mereka pasarkan. Tanggapan mba Arien?
Positif tentunya. sah-sah saja,itu terjadi secara natural. Kalau seorang musisi metal misalnya, menjual produk makanan dengan merek berbau metal, hingga desain kemasan dan semuanya bernuansa metal itu sangat bagus dan unik, untuk menunjukan jati diri mereka,rasa makanan nya enak,tidak perlu jadi seorang metal untuk ikut menikmatinya,semua kalangan bakal suka.Disamping itu,setidaknya mereka sudah punya pasar yang pasti,yaitu komunitas musik mereka.
Perlukah adanya re-edukasi mengenai entrepreneurship untuk generasi muda di scene musik indie/underground ini?
Jelas. Meskipun tiap orang akan berkembang dan mendapat ilmu secara natural sejalan dengan perkembangan kedewasaan dan pengalaman-pengalamannya, namun akan sangat positif juga bila mereka mengenal entrepreneurship sejak dini. Intinya adalah edukasi bahwa menjadi entrepreneur itu modalnya adalah kreatif, berani, tekun dan jujur. Siapapun berkesempatan untuk menjadi seorang entrepreneur.
Terakhir, apa kiat dari mba Arien bagi teman-teman yang memiliki cita-cita menjadi seorang entrepreneur?
Menjadi entrepreneur adalah sebuah pilihan. Modalnya adalah keyakinan. Sekali kita memutuskan menjadi seorang entrepreneur, maka harus menjalani dengan serius. Terus berusaha memahami ilmunya dan bekerja keras. Modal finansial bukan hal yang utama, ada banyak solusi jika kita mau berusaha.



